Suwarta.id, Makassar — Sebelum mengenal PNM Mekaar, Fennawaty Tanuwijaya asal Pa’lambasan, Makassar, Sulawesi Selatan, adalah perempuan yang berjuang seorang diri. Setiaphari ia membuka kantinnya dengan modal yang sangat terbatas, hanya mampu memproduksi sedikit jenis makanan, tanpabantuan dari siapapun keluarga sekalipun. Jumat 3 Juli 2026.
Usahanya yang kecilkerap tidak mendapat perhatian, sementara kebutuhan sehari-hari pun masih serba pas-pasan. Namun di balik keterbatasanitu, Fennawaty menyimpan mimpi yang tidak pernah ia biarkanpadam: punya usaha yang lebih besar dan suatu hari bisamempekerjakan orang-orang di sekitarnya.
Mimpi itu mulaimenemukan jalannya pada 2025, ketika ia mendapatkan aksespembiayaan dari PNM Mekaar senilai Rp3.000.000 tanpaagunan dan hidupnya pun berubah.

Perubahan yang dirasakan Fennawaty setelah bergabung denganPNM Mekaar pada siklus pertamanya terasa nyata dan langsungmenyentuh kehidupannya sehari-hari. Modal yang diterimanyatidak hanya menambah stok bahan baku, tetapi membuka ruangbagi Fennawaty untuk memperluas jenis makanan yang iaproduksi dan hasilnya, semakin banyak pembeli yang berdatangan ke kantinnya.
Omzetnya naik, dan yang paling iabanggakan: ia kini mampu membuka lapangan pekerjaan bagitetangga sekitarnya sesuatu yang sebelumnya hanya ada dalammimpinya.
“Dulu, saya hanya bisa memproduksi sangat sedikitmakanan di kantin saya dalam sehari karena modal yang sangatterbatas. Berjuang sendiri tanpa bantuan dari orang lain ataupunkeluarga. Tapi setelah mendapat pembiayaan dari PNM Mekaar, produksi saya melonjak, banyak yang minat datang, omzet naik, dan saya bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan untuktetangga sekitar,” tutur Fennawaty.
Pemimpin Cabang PNM Makassar, Yazdi Anugrah, menyebutkisah seperti Fennawaty adalah gambaran nyata dari tujuanPNM Mekaar sejak pertama kali hadir di Sulawesi Selatan. Menurutnya, keberhasilan nasabah bukan hanya ditentukan olehbesarnya pembiayaan yang diterima, melainkan oleh bagaimanaPNM hadir mendampingi nasabah melalui tiga modal sekaligus: modal finansial, modal intelektual, dan modal sosial.
“PNM memberikan tiga jenis modal kepada nasabahnya, modal usaha, modal intelektual, dan modal sosial. Kegiatan PKU adalahbagian dari modal intelektual yang kami berikan agar nasabahtidak hanya mendapat pinjaman, tetapi juga bekal untuktumbuh,” ujar Yazdi.
Bagi Fennawaty, modal yang diberikan PNM Mekaar bukansekadar uang melainkan sebuah amanah yang ia jaga dengansepenuh hati.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih karenaPNM sangat membantu permodalan usaha saya, prosesnyacepat. Bagi saya, modal yang dipercayakan kepada kita dariPNM adalah amanah, sehingga saya menjaga amanah itu untukmenjadi manfaat bagi keluarga dan sekitar saya agar mendapatmanfaatnya juga” ujarnya.
Kisah Fennawaty menjadi buktibahwa ketika perempuan prasejahtera diberi akses yang tepattanpa agunan, tanpa prosedur yang rumit, dengan pendampinganyang berkelanjutan potensi yang selama ini terpendam bisatumbuh dan bahkan membawa manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Satu kantin kecil yang dulu sepi, kini menjadisumber penghidupan bagi lebih dari satu keluarga.(hh)




