Oleh: Andi Mutiara
Ketua Komisariat Fikom Cabang Mamuju Tengah
Suwarta.id, – Di era modern, konsep diri perempuan mengalami transformasi yang signifikan. Perempuan tidak lagi semata-mata memandang dirinya melalui peran tradisional seperti ibu rumah tangga yang hanya di dapur, sumur dan kasur atau pendamping laki-laki, tetapi sebagai individu yang mandiri, berdaya, dan memiliki identitas yang beragam. Perubahan ini dipengaruhi oleh kemajuan pendidikan, teknologi, serta meningkatnya kesadaran akan kesetaraan gender.
Perempuan modern memiliki ruang yang lebih luas untuk mengembangkan potensi diri. Mereka dapat berkarier, berpendidikan tinggi, aktif di ruang publik, sekaligus memilih peran domestik tanpa tekanan sosial yang kaku. Konsep diri perempuan kini lebih fleksibel, tidak ditentukan oleh satu standar tunggal, melainkan oleh pilihan dan nilai yang diyakini masing-masing individu.
Namun, tantangan tetap ada. Standar kecantikan yang dibentuk media sosial sering kali menciptakan tekanan psikologis, membuat sebagian perempuan mengukur nilai diri berdasarkan penampilan, validasi digital, atau pencapaian tertentu. Selain itu, tuntutan untuk “sempurna” dalam berbagai peran profesional, keluarga, dan sosial dapat menimbulkan konflik batin dan kelelahan emosional.
Oleh karena itu, penting bagi perempuan di era modern untuk membangun konsep diri yang sehat dan autentik. Konsep diri seharusnya berakar pada penerimaan diri, kepercayaan pada kemampuan pribadi, serta kesadaran bahwa setiap perempuan memiliki jalan hidup yang unik. Lingkungan keluarga, pendidikan, dan masyarakat juga berperan besar dalam mendukung pembentukan konsep diri yang positif.
Pada akhirnya, konsep diri perempuan di era modern bukan tentang menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial, melainkan tentang keberanian mengenali, menerima, dan menghargai diri sendiri. Perempuan yang memiliki konsep diri yang kuat akan mampu berkontribusi secara optimal, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat luas.(*)




