Suwarta.id, Polman – Di tengah semaraknya pesta pernikahan di Lingkungan Ujung Baru, Kelurahan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, sebuah pertunjukan yang tak biasa menyedot perhatian warga. Bukan semata karena adat istiadat atau kuliner tradisional yang dihidangkan, melainkan kehadiran para pendekar dari berbagai perguruan pencak silat yang tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Polewali Mandar, 31 Mei 2025.
Sejak sore hari, halaman tempat hajatan digelar mulai dipadati oleh warga dari berbagai penjuru. Anak-anak tampak duduk antusias di barisan terdepan, sementara para orang tua dan pemuda memenuhi kursi-kursi yang disediakan maupun berdiri mengelilingi arena pertunjukan. Setiap jurus dan lompatan yang diperagakan para pesilat memicu tepuk tangan meriah, sesekali disertai decak kagum dan sorakan penuh semangat.
Yang membuat suasana semakin istimewa adalah kehadiran tokoh-tokoh penting IPSI Polman. Ketua IPSI Polman, Wahyuddin Ramatil yang akrab disapa Bang Bhayu, tampak hadir memberikan dukungan penuh. Ia didampingi oleh Nurdin Ibrahim atau Abba Nurdin, Wakil Ketua II IPSI Polman yang juga dikenal luas sebagai guru besar salah satu aliran pencak silat tradisional Mandar.
“Silat bukan sekadar olahraga atau bela diri. Ini adalah warisan nilai, etika, dan jati diri. Ketika kita tampil di tengah masyarakat seperti ini, itu artinya kita sedang menanamkan kembali akar budaya ke dalam jiwa generasi muda,” ujar Abba Nurdin penuh makna di sela acara.
Para pesilat tidak hanya menampilkan jurus-jurus tangan kosong, tetapi juga memperagakan jurus senjata tradisional seperti pedang dan tombak, dengan koreografi yang terjaga namun tetap atraktif. Penonton terdiam sejenak kala gerakan senjata meluncur cepat namun terkontrol, lalu kembali bersorak saat jurus diakhiri dengan sikap hormat khas pendekar silat.
Selain menjadi hiburan, kegiatan ini menjadi pengingat kolektif akan pentingnya menjaga jati diri budaya di tengah arus modernisasi. Seorang tokoh masyarakat Wonomulyo tak dapat menyembunyikan rasa harunya.
“Kami sangat terkesan. Ini bukan sekadar tontonan, tapi juga tuntunan. Anak-anak kami bisa melihat bahwa kekuatan bukan hanya otot, tapi juga karakter dan sikap. Terima kasih IPSI Polman, kalian telah menghidupkan kembali semangat kampung ini,” ujarnya sambil menepuk bahu salah satu pelatih.
Namun, mungkin yang paling menyentuh hati adalah respons dari penonton paling muda. Seorang anak lelaki berusia 10 tahun bernama Farhan terlihat sangat terinspirasi. Dengan wajah penuh keringat dan mata berbinar, ia menghampiri seorang pesilat yang baru selesai tampil.
“Saya mau ikut latihan silat, Om! Tadi keren sekali waktu Om lompat sambil tendang! Saya mau belajar supaya bisa jaga teman-teman dan mama di rumah,” ucapnya polos.
Ucapan Farhan sontak membuat semua yang mendengar tersenyum, bahkan beberapa terlihat menahan haru. Bagi IPSI Polman, ini adalah bukti bahwa silat bukan hanya dikenang, tetapi dirindukan, bahkan oleh generasi yang baru mulai memahami dunia.
Acara ini membuktikan bahwa pencak silat bukan hanya milik gelanggang pertandingan atau acara formal. Ia hidup dan tumbuh subur di tengah masyarakat, menjadi bagian dari dinamika sosial dan spiritual warga. Di balik setiap jurus, tersimpan nilai disiplin, hormat, keberanian, dan cinta tanah air—nilai yang tak lekang oleh zaman.
IPSI Polman pun menuai apresiasi luas atas konsistensinya membawa silat kembali ke akar masyarakat. Di bawah kepemimpinan yang inklusif dan penuh visi budaya, pencak silat tak hanya bertahan, tapi berkembang—mengakar dalam semangat gotong royong dan kekeluargaan yang kuat di Masyarakat.(jl/hh)




