Pemerintahan
Beranda / Pemerintahan / One Piece dan Cermin Ketidakadilan di Negeri Kapitalis, Kemerdekaan Hanya Milik Kelompok Elit

One Piece dan Cermin Ketidakadilan di Negeri Kapitalis, Kemerdekaan Hanya Milik Kelompok Elit

Oleh : Nurlina, S.Pd.I 

Suwarta.id, – Sedang ramai perihal pengibaran bendera bajak laut One Piece di negeri ini menjelang HUT RI yang ke-80. Mengutip di beberapa media seperti kompas.com, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Sufmi Dasco Ahmad, menanggapi maraknya pemasangan bendera One Piece tersebut. Menurut Dasco, pengibaran simbol-simbol tersebut diduga mengindikasikan adanya gerakan sistematis untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Tindakan tersebut adalah cermin ekspresi kekecewaan rakyat terhadap ketidakadilan. Hal ini sebenarnya bukan bentuk makar, hanya sekedar simbol bahwa rakyat itu mencintai negeri ini, dan tidak rela negerinya terus dalam kekacauan akibat ulah kaum kapitalis. Cerita One Piece menggambarkan kondisi di Indonesia, di mana segelintir pejabat menikmati kekuasaan, sementara rakyat menderita. Meski secara formal dan simbolis merdeka. Namun, rakyat belum merasakan kemerdekaan sejati dalam kehidupan mereka disebabkan kebijakan yang mengutamakan kelompok elit.

Menilik akar Masalah Negeri

Pada dasarnya akar masalah dalam negeri ini adalah diterapkannya sistem rusak yaitu sistem Kapitalisme. Kapitalisme (wikipedia) adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri, dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Penerapan sistem kapitalisme membuat para pengusaha mengejar keuntungan sebanyak mungkin, tapi minim dalam permodalan. Sistem ini pun telah melahirkan kesenjangan sosial yang begitu tajam, sangat nyata terlihat di negeri ini. Data BPS tentang jumlah rakyat miskin per Maret 2025 mencapai 23,85 juta orang atau 8,47% dari total penduduk. Sementara kaum elit jumlahnya hanya 1% saja, tapi mampu menguasai semuanya.

JAGA SULBAR Didorong Jadi Gerakan Bersama Lindungi Generasi Muda dari Ancaman NAPZA

Dalam hal kebijakan yang dibuat justru memihak kepentingan elit kapital, sehingga rakyat merasakan kesulitan secara struktural. Ketimpangan sosial, ketidakadilan hukum, korupsi, dan penindasan seperti halnya dalam cerita anime tersebut. Hukum yang diterapkan saat ini bagaikan pisau bermata dua, tumpul keatas dan tajamnya kebawah. Saat rakyat biasa yang tidak punya kekuatan, baik itu jabatan maupun materi terjerat kasus, maka diberatkan. Namun, sebaliknya jika yang berkedudukan mengalami hal yang sama mereka sangat mudah untuk membeli hukum. Yang berkuasa adalah uang dan hukum rimba menjadi pilihan.

Sangat perlu umat disadarkan bahwa problem mendasar yang dihadapi adalah penerapan sistem kapitalis yang merupakan sistem buatan manusia, bukan dari Dzat yang Maha Adil yaitu Allah subhana wa ta’ala. Keadilan dalam Islam sangat luar biasa, bahkan secara historis sudah pernah terjadi dimasa lalu sejak kekuasaan Islam pertama di Madinah al Munawwarah tahun 622 M hingga kesultanan terakhir Turki Utsmany oleh Sultan Abdul Hamid II tahun 1924 M.

Prof. DR. Raghib As-sirjani dalam bukunya edisi Indonesia, ‘Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia’ bab Lembaga Peradilan, beliau menuliskan bahwa yang paling membedakan lembaga peradilan Islam dan lembaga peradilan lainnya adalah bahwa tujuan dari peradilan Islam adalah keadilan itu sendiri dan bisa berinteraksi dengan siapa saja yang ada didepannya. Islam melarang hakim untuk jauh dari kebenaran.

Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam bersabda, “Hakim itu ada tiga, dua hakim berada di neraka dan satu hakim berada di surga. Pertama, hakim yang memberikan keputusan dengan tidak benar sementara ia mengetahui hal itu, maka ia berada di neraka. Kedua, hakim yang tidak tahu kemudian ia memutuskan hukum dengan ketidaktahuannya sehingga menghancurkan hak orang lain, maka ia berada di neraka. Dan ketiga, hakim yang tahu dan ia memutuskan hukum secara benar dengan ilmunya, maka ia berada di surga.” (HR. At-Tirmidzi, Kitab Al-Ahkam)

Menerapkan syariat Islam secara universal maka umat akan terbebas dari keburukan sistem kapitalisme. Secara tabiatnya memang rusak sehingga melahirkan kemudharatan yang berkelanjutan dan beragam. Negara-negara yang menjadi penegak kapitalisme seperti AS, China, Inggris dan Jerman, perusahaan-perusahaan di negara tersebut sangat banyak yang dari swasta, baik perusaahaan kecil maupun yang besar menguasai. Sekilas mereka maju, tapi nyatanya mereka secara sosial bermasalah dan hidup diatas pajak dan utang yang tinggi.

Biro Organisasi Setda Sulbar Dampingi Penyusunan Anjab dan ABK Pemkab Mamasa

Islam itu Universal

Islam diturunkan bukan hanya ajaran spiritual, tetapi sebagai sistem hidup yang menjadikan umat Islam sebagai Khairu Ummah (umat terbaik) sesuai apa yang difirmankan oleh Allah subhana wa ta’ala dalam QS. Ali Imran: 110, menegakkan keadilan dan menolak segala bentuk penindasan. Adil dalam Islam bukan samarasa ataupun samarata, melainkan memberikan sesuai haknya (porsinya). Keadilan ini juga pernah disaksikan oleh Bangsa Barat dan Eropa. Bahkan sisi peradaban Barat yang dipengaruhi oleh peradaban Islam diantaranya, Undang-undang, ilmu pengetahuan, pendidikan, muamalah, akidah, bahkan bahasa, sastra, dan seni.

Istilah umat terbaik yang diberikan oleh Allah subhana wa ta’ala dalam Al-Qur’an bukan istilah yang biasa. Dalam tafsir Ibnu Katsir dikatakan pula oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Atiyyah Al-Aufi, Ikrimah, Ata, dan Ar-Rabi’ Ibnu Anas, yaitu mereka adalah sebaik-baik umat dan manusia yang paling bermanfaat buat umat manusia.

Tidak sedikit masyarakat telah menyadari bahwa kesalahan tersebut ada pada sistem hidup yang diterapkan oleh negeri ini. Kesadaran yang harus melahirkan gerakan untuk mengubah keadaan. Mengubah tatanan sistem kapitalisme ke arah penerapan Islam di bawah kepemimpinan yang mulia yaitu Islam. Bukan sekadar simbolik bahkan anarkisme ataupun yang lain, tetapi perlawanan yang terarah dan terukur melalui dakwah dan perubahan sistem. Islam harus diemban oleh individu dan masyarakat.

Maka, opini Islam harus selalu menjadi bahan obrolan. Islam harus tersampaikan dalam semua aspeknya, tidak tebang pilih seperti prasmanan. Akidah, ibadah, muamalah, pendidikan, politik bahkan hukum dan kepemimpinanya, semua ada konsepnya tinggal kita mau mengambilnya atau tidak. Namun, satu hal yang pasti bahwa keberkahan akan didapatkan dari langit dan bumi ketika kita menjalankan semuanya.

BPKAD Sulbar Bahas Penyusunan Nota Kesepakatan Pemanfaatan Aplikasi IEKD Bersama DJPb

Wallahu A’lam Bishshawab.(*)

Bagikan