Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Perempuan dalam Dilema Kontemporer: Berani Melangkah atau Terjebak Zona Nyaman yang Menyesatkan

Perempuan dalam Dilema Kontemporer: Berani Melangkah atau Terjebak Zona Nyaman yang Menyesatkan

Oleh : Andi Mutiara

Ketua Komisariat Fikom Cabang Mamuju Tengah

Suwarta.id, – Perempuan hari ini dihadapkan pada pilihan yang tampak sederhana namun sesungguhnya kompleks: berani melangkah keluar dari batas aman atau tetap bertahan di zona nyaman yang menjanjikan stabilitas semu. Dilema ini menjadi isu kontemporer yang tak hanya personal, tetapi juga struktural dipengaruhi oleh budaya, norma sosial, hingga ekspektasi yang terus dilekatkan pada tubuh dan peran perempuan.

Zona nyaman kerap dipersepsikan sebagai ruang aman: pekerjaan yang stabil meski tidak berkembang, relasi yang mapan meski mengekang, atau peran domestik yang diterima tanpa perlawanan karena dianggap “kodrat”. Dalam konteks ini, perempuan sering kali dipuji karena kepatuhannya, bukan keberaniannya. Ironisnya, kenyamanan tersebut perlahan berubah menjadi jebakan yang membatasi potensi, mematikan daya kritis, dan menumpulkan mimpi.

Di sisi lain, keberanian untuk melangkah mengambil risiko, bersuara, dan memilih jalan berbeda masih dianggap sebagai tindakan “terlalu ambisius” bagi perempuan. Ketika perempuan memilih karier yang menantang, pendidikan tinggi, atau keputusan hidup yang tidak lazim, mereka kerap dihadapkan pada stigma sosial. Seolah-olah keberanian adalah hak istimewa yang lebih pantas dimiliki laki-laki.

Kawal SPMB: Sosialisasi Juknis, Fakta Integritas Ditekan

Padahal, realitas kontemporer menunjukkan bahwa perempuan tidak lagi hidup dalam ruang yang seragam. Mereka hadir sebagai pemimpin, akademisi, pekerja kreatif, aktivis, dan pengambil keputusan. Namun, kemajuan representasi ini belum sepenuhnya diiringi dengan perubahan cara pandang. Banyak perempuan masih harus “membayar mahal” keberaniannya dengan tekanan sosial, rasa bersalah, bahkan pengucilan.

Zona nyaman menjadi menyesatkan ketika ia membungkus ketidakadilan dengan dalih keamanan. Perempuan yang memilih bertahan sering kali bukan karena tidak mampu, melainkan karena sistem belum sepenuhnya ramah terhadap keberanian mereka. Kurangnya dukungan, minimnya perlindungan sosial, serta bias gender di ruang publik membuat risiko terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri.

Oleh karena itu, persoalan ini tidak bisa dibebankan semata pada individu perempuan. Keberanian melangkah harus ditopang oleh lingkungan yang adil dan inklusif. Negara, institusi, dan masyarakat memiliki tanggung jawab menciptakan ruang aman bagi perempuan untuk bertumbuh tanpa rasa takut akan stigma dan diskriminasi.

Perempuan berhak memilih baik untuk melangkah maupun bertahan selama pilihan itu lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan. Namun, ketika zona nyaman justru melanggengkan ketimpangan, maka keberanian menjadi sebuah keharusan moral. Keberanian untuk menolak batasan yang tidak adil, untuk mendefinisikan ulang makna sukses, dan untuk memperjuangkan ruang hidup yang lebih setara.

Pada akhirnya, dilema perempuan kontemporer bukan tentang meninggalkan kenyamanan semata, melainkan tentang menjemput kebebasan. Sebab, masa depan yang adil tidak pernah lahir dari kepatuhan yang diam, melainkan dari langkah berani yang mengguncang kemapanan.(*)

Bangun Harapan Lewat Pendidikan, Dinsos P3A dan PMD Sulbar Pacu Sekolah Rakyat Terintegrasi

Bagikan