Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Revitalisasi Analisis KOHATI sebagai Kritik atas Mandeknya Gerakan Keperempuanan

Revitalisasi Analisis KOHATI sebagai Kritik atas Mandeknya Gerakan Keperempuanan

Oleh: Andi Mutiara

Ketua Komisariat Fikom Cabang Mamuju Tengah

Suwarta.id, – Koprs HMI-WATI (KOHATI) sejatinya lahir sebagai ruang pembentukan kesadaran perempuan Muslim yang kritis, berilmu, dan berorientasi pada perubahan sosial. Namun, dalam praktiknya, gerakan KOHATI hari ini kerap terjebak pada rutinitas kegiatan tanpa basis analisis yang kuat. Isu keperempuanan dipahami secara parsial, bahkan terkadang hanya meniru narasi arus utama tanpa proses dialektika ideologis yang mendalam. Akibatnya, gerakan yang dibangun kehilangan arah dan daya transformasi.

Mandeknya gerakan keperempuanan tidak lepas dari krisis paradigma. Banyak gerakan perempuan lebih fokus pada aspek representasi kehadiran perempuan di ruang publik tanpa mengkritisi struktur sosial, ekonomi, dan budaya yang melanggengkan ketimpangan. KOHATI, sebagai organisasi kader, seharusnya tampil berbeda dengan menghadirkan analisis yang membongkar relasi kuasa, ketidakadilan struktural, serta bias kebijakan yang merugikan perempuan, khususnya perempuan kelas bawah.

Revitalisasi analisis KOHATI menjadi keharusan, bukan pilihan. Analisis harus kembali berpijak pada nilai dasar keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan. Isu keperempuanan tidak cukup dipahami sebagai persoalan gender semata, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan dan keadilan sosial. Dengan demikian, KOHATI mampu membedakan antara perjuangan keperempuanan yang emansipatoris dan narasi keperempuanan yang justru menjauhkan perempuan dari akar nilai dan realitas sosialnya.

Sekda Junda: Sekolah Rakyat Terintegrasi Simboro Siap Tampung 450 Siswa, MPLS Segera Dimulai

Lebih jauh, revitalisasi analisis juga menuntut KOHATI untuk berani melakukan otokritik. Apakah gerakan yang selama ini dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan perempuan di akar rumput? Ataukah hanya berhenti pada wacana akademik dan forum-forum diskusi internal? Tanpa keberanian untuk mengkritisi diri sendiri, KOHATI berisiko menjadi bagian dari stagnasi gerakan keperempuanan itu sendiri.

Pada akhirnya, revitalisasi analisis KOHATI bukan hanya soal memperbarui cara berpikir, tetapi juga soal menegaskan kembali keberpihakan. KOHATI harus hadir sebagai kekuatan intelektual yang mampu mengawal isu keperempuanan secara kritis, ideologis, dan kontekstual. Dengan analisis yang tajam dan berpijak pada nilai perjuangan, KOHATI dapat menjadi lokomotif pembaruan gerakan keperempuanan yang tidak hanya lantang bersuara, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata.(*)

Populer

01

Penggunaan Nama Sulselbar Tidak Lagi Relevan, BADKO HMI Sulawesi Barat Telah Resmi Terbentuk

02

Pelaku Penganiayaan Berkeliaran, IPPMN Desak Polres Pelaku Ditangkap

03

Masyarakat Tutar Marah: Sampah Kota Dibawa ke Tutar, HMI Polman Minta Bupati Jangan Mainkan Masyarakat

04

Profil Al Gazali, Konsultan Politik WS HADIR Tumbangkan Survei Nasional di Mamasa 

September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Bagikan