Laporan: Hardi AR.
(Relawan dan Ketua Korumta Pertama juga Peserta Sekolah Menulis Stanifa Institute Jogja)
Di dusun paling jauh di Desa Kayuangin, berjarak kurang lebih 6 KM ke timur dari pusat keramain kota Malunda, Majene, Sulbar, Azalia Safita dilahirkan. Namun seiring dengan pertumbuhannya, ia didiagnosa menderita penyakit yang diduga tumor (kanker). Bahkan diduga penyakit ini dideritanya sejak lahir dan semakin parah hingga saat ini.
Azalia empat bersaudara, ia anak yang paling bungsu, dan salah satu saudaranya sudah berpulang ke pangkuan ilahi lebih dulu.
Di umur dua bulan, tepatnya tahun 2024, Azalia Sapita dibawa ke Makassar oleh keluarganya untuk operasi pertamanya. Alhamdulillah operasi berhasil. Namun pada waktu itu dokter menyarakan agar tiga bulan sesudahnya harus kembali diperiksa atau kontrol, sebab bisa jadi akar kanker itu belum sepenuhnya bersih. Namun sampai sekarang umur Azalia sudah memasuki -+ 2 tahun, orang tua Azalia tak kunjung kembali ke rumah sakit itu, karena mengingat biaya hidup dirumah sakit sangat besar. Sementara orangtua Azalia hanya pekerja serabutan. Ayahnya hanya pekerja buruh dan tukang batu bangunan, sementara ibunya hanya mengurus rumah tangga. Hal itulah yang membuat orang tua Azalia berkecil hati untuk membawa kembali berobat kerumah sakit. Mengingat di operasi pertamanya saja, orang tua Azalia menghabiskan uang hampir 10 juta. Itu yang membuat orang tua Azalia terpaksa berurusan dengan rentenir. Itulah hal yang paling ditakuti orang tua Azalia dalam hidupnya, namun terpaksa melakukan demi nyawa anak bungsunya.
Hari ini orang tua Azalia kembali diliputi rasa takut karena melihat kondisi penyakit yang diderita anaknya semakin membesar. Namun orang tua Azalia belum bisa apa-apa, karena masih terlilit hutang dari bank pinjaman yang sampai sekarang masi berjuang untuk melunasinya. Namun di sisi lain penyakit anaknya semakin parah.
Pemerintah Desa Kayuangin dan sejumlah relawan, organisasi pemuda, Korumta Mekkatta lewat relawan Hardi AR. dan Pendiri Komunitas Rumah Kita (Korumta) Bustan Basir Maras juga telah membangun komunikasi dengan sejumlah jejaring pengaman sosial, salah satunya dengan Yayasan Goroba (Gorontalo Baik) berusaha semaksimal mungkin menggalang donasi agar pengobatan Azalia segera dapat ditangani dengan baik.
Hardi AR. juga telah mengontak relawan sosial Sulsel Andika Mappasomba yang banyak aktif di jejaring sosial dan gerakan kemanusiaan di wilayah Sulselbar, setidaknya dapat membantu ketika proses rujukan Azalia ke Makassar saat ini. Satu harapan utama kita bersama, semoga ananda Azalia dapat meraih kembali kesembuhannya dan sehat, tumbuh menjadi anak harapan keluarga, bangsa, agama dan negara. Amin. Harap Bustan.
Bagi para donatur yang ingin turut berdonasi demi kesembuhan Azalia, dapat mengontak langsung ke Yayasan Goroba, atau ke relawan kami Hardi AR.




