Oleh : Hafsah Syamsul, M.Hum
(Praktisi Pendidikan)
Suwarta.id – Indonesia kembali heboh. Kali ini bukan karena korupsi yang tak kunjung reda, bukan pula karena harga bahan pokok yang melambung tinggi, atau janji-janji manis pemilu yang segera dilupakan begitu suara rakyat sudah dikantongi. Kali ini, anak muda bersuara. Dengan tagar #KaburAjaDulu, mereka berbondong-bondong mengungkapkan kekecewaan yang semakin hari semakin menumpuk.
Siapa yang salah? Tentu lebih mudah jika menyalahkan generasi muda yang “tak tahu bersyukur”, yang “malas berjuang di negeri sendiri”, atau yang “hanya ingin hidup enak tanpa kerja keras”. Tapi, mari kita berhenti sejenak dan bertanya: benarkah mereka sekadar mengeluh, atau justru merefleksikan realitas pahit yang enggan diakui oleh penguasa?
Setiap tahun, ratusan ribu lulusan universitas dilepas ke pasar kerja yang tidak siap menampung mereka. Lapangan pekerjaan? Langka. Upah? Minim. Biaya hidup? Melonjak. Sementara itu, di belahan dunia lain, gaji pekerja kasar pun lebih tinggi daripada gaji lulusan universitas di negeri ini. Di saat anak muda harus bertahan dengan gaji UMR yang nyaris tak cukup untuk membayar kos, media sosial menyuguhkan realitas lain: kehidupan di luar negeri yang terlihat lebih layak, lebih manusiawi.
Brain Drain dan Ketimpangan Global
#KaburAjaDulu Fenomena ini bukan sekadar masalah individu yang ingin mencari penghidupan lebih baik. Ini adalah dampak dari ketimpangan ekonomi global yang semakin menggila. Brain drain, istilah yang menggambarkan migrasi tenaga kerja terampil ke negara-negara maju, bukan sekadar tren sesaat. Ini adalah akibat dari kegagalan sistem ekonomi yang tak berpihak pada rakyatnya.
Negara-negara maju dengan senang hati membuka pintu bagi para tenaga terampil dari negara berkembang. Mereka sadar bahwa menerima tenaga kerja siap pakai jauh lebih murah daripada harus mendidik mereka dari nol. Sementara itu, negara asal mereka justru gagal memberikan kesempatan dan penghargaan yang layak.
Lucunya, ketika anak-anak muda ini memilih pergi, pemerintah malah sibuk beretorika tentang “nasionalisme” dan “pengabdian kepada negeri”. Sayangnya,retorika semacam ini tak bisa membayar tagihan, dan pengabdian tanpa timbal balik hanyalah perbudakan terselubung.
kesenjangan ekonomi ini tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga di tingkat dunia. Kapitalisme global memastikan bahwa negara-negara berkembang tetap menjadi pemasok tenaga kerja murah dan sumber daya alam, sementara negara-negara maju menikmati hasilnya. Sistem ini telah berlangsung lama, dan ironisnya, banyak pemimpin negeri ini yang malah tunduk pada aturan main yang merugikan rakyatnya sendiri.
Infrastruktur boleh dibangun, gedung pencakar langit boleh menjulang, tetapi selama kebijakan ekonomi masih berpihak pada segelintir elit, anak muda tetap akan merasa terkucil di tanah kelahirannya sendiri. Tak bisa dipungkiri, akar dari semua permasalahan ini adalah sistem kapitalisme yang dijadikan asas dalam pengelolaan negara. Sistem ini hanya menguntungkan segelintir orang, sementara mayoritas rakyatnya harus berjuang mati-matian untuk sekadar bertahan hidup. Kesenjangan ekonomi bukan hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga di tingkat global. Selama kapitalisme masih menjadi panglima, maka jangan pernah berharap ada keadilan bagi rakyat kecil.
Islam: Solusi Nyata untuk Kesejahteraan
Dalam Islam, kesejahteraan rakyat bukanlah sekadar janji manis di masa kampanye, tetapi kewajiban yang harus dipenuhi oleh negara. Negara dalam sistem Islam memiliki tanggung jawab mutlak untuk memastikan setiap individu mendapatkan hak-hak dasarnya, mulai dari sandang, pangan, papan, hingga pendidikan dan pekerjaan.
Fenomena #KaburAjaDulu adalah alarm bagi negeri ini. Ini bukan sekadar tren media sosial, tetapi refleksi dari kegagalan negara dalam menyediakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Jika para pemimpin masih enggan mengakui masalah ini, maka jangan salahkan jika semakin banyak generasi muda yang memilih pergi. Jika sistem yang diterapkan berpihak pada rakyat, jika sumber daya yang melimpah ini dikelola dengan baik untuk kesejahteraan bersama, maka tidak akan ada lagi alasan bagi anak-anak muda untuk meninggalkan negerinya. Sebaliknya, mereka akan bangga tinggal, bekerja, dan membangun tanah airnya sendiri.
Sayangnya, selama kebijakan masih lebih memikirkan kepentingan para pemilik modal daripada rakyat, maka #KaburAjaDulu bukanlah sekadar tren, tetapi akan menjadi realitas yang terus berulang. Hingga saat itu tiba, kita hanya bisa bertanya: siapa yang sebenarnya perlu berubah anak mudanya, atau sistem yang selama ini menindas mereka?
Jika ada yang peduli terhadap nasib rakyat hingga ke level individu, maka itu adalah Islam sebab Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga sistem ekonomi yang adil dan berpihak pada kesejahteraan rakyatnya. Negara, dalam sistem Islam, bertanggung jawab penuh terhadap kesejahteraan setiap individu, bukan hanya sekadar menghitung angka pertumbuhan ekonomi yang hanya dinikmati segelintir orang.
Islam mewajibkan negara untuk menyediakan lapangan kerja bagi setiap laki-laki baligh, baik di sektor pertanian, perdagangan, industri, maupun jasa. Negara juga diwajibkan mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat, bukan untuk dijual kepada asing demi keuntungan segelintir orang. Dengan mekanisme ini, tak akan ada lagi anak muda yang merasa harus “kabur” demi bertahan hidup. Negara tidak akan membiarkan mereka mencari jalan sendiri, tetapi akan memastikan mereka mendapatkan kehidupan yang layak sebagai warga negara. Pada dasarnya “kabur” bukanlah solusi, Saatnya berhenti lari dan mulai berjuang untuk perubahan hakiki, menjadikan Islam sebagai solusi.(*)




