(Festival Loy Krathong (Noppamas International) Bangkok Thailand. 2025) Part 3 (Selesai)
oleh: Sahabuddin Mahganna
Suwarta.id, – Good Nihgt Bangkok! Sekitar 3 jam perjalanan dari Pattaya, lampu-lampu kota menghiasi sepanjang jalan, tol menjadi sempit oleh banyaknya kendaraan, memaksa Bus kami harus berjalan lambat. Tim seluruh negara langsung dibawa ke ruang acara untuk melakukan pertunjukan, mandi sudah tidak sempat, profesionalitas, loyalitas dan kesabaran dibutuhkan demi negara, pemain diuji meski rasa lelah makin kuat menghampiri, namun situasi menjadi lebih tegang ketika salah satu dari kami di Litaq Bi Art mengalami iritasi di bagian kulit “nasanga Mandar Ombengan” untungnya sebelum pentas tidak terlalu serius. Pementas bergegas merapikan alat pentas, memakai kostum dan make up, dan itu pasti sangat tergesah.
Thailand memulai pertunjukan membuat kami merasa lega karena urutan tampilan masih di belakang, sementara dari Bangkok lokal masih menunggu antrian. Pukul 21:25 Litaq Bi Art menuju stage, bersiap mendengar panggilan dari Sulawesi Barat from Indonesia, sambil menikmati khas Thailand.
Sri Lanka membuka pertunjukan delegasi luar, tepuk tangan bergemuruh, disusul Nepal dengan khasnya, lalu Indonesia Jakarta mengusung All Nusantara yang penuh antraktif, dilanjutkan oleh Bangladesh, menyusul Moldova.
Litaq Bi Art Indonesia dari Sulawesi Barat dipanggil ke panggung, iringan opening menggema, mengundang naluri semangat audens, sementara ayunan parang antrakti menusuk jantung para apresiator, dan memberi pengertian bahwa Indonesia mampu membuktikan kekayaan keberagaman budaya, ketegangan-ketegangan dalam olahan karya mengubah suasana kultur lemah lembut Thailand di Loy Krathong Festival semenjak dimulai acara. litaq Bi Art menutup karyanya dengan sambutan tepuk tangan yang meriah.
Di bawah panggung kami dibanjiri poto, wawancara bahkan seorang ibu paruh baya seorang penonton Thailand menghadiahi sepatu High Heels salah satu pemain. Ikha Andriani mengaku sangat senang, begitupun ibu sang pemberi, lalu kami berpoto bersama.
Penampilan tari Bharatanatyam segera disambut para hadirin, dengan khas tabuhanTabla menggugah hati, sementara Iran setelah India menari dan tabuhan Duff ciri Persian Sea, menyampaikan kebahagiaan penuh kasih damai dunia. Thailand menutup dan semua peserta naik ke panggung melakukan Closing Ceremony. Dan The Best Performence pada kami Litaq Bi Art, akhir yang begitu menyenangkan.
Bangkok malam ini sungguh menjadi saksi sejarah bagi kami, kendati Sulawesi Barat nyaris tak dikenal, tetapi sama mungkinnya jika ia tak pernah menampakkan dirinya. Bangkok dengan sejuta panorama yang indah, namun sepanjang jalan sepertinya kebahagiaan itu sedikit berkurang, pamlet dan tempat berdo’a terpajang wajah Ratu Srikit tanda bekabung selama setahun.
India, Nepal, Bangladesh, Thailand, Iran, Sri lanka, Moldova, Indonesia (Jakarta, Sulawesi Barat), tanggal 6 November 2025 akan melakukan kunjungan wisata di beberapa tempat sebelum meninggalkan Bangkok, dan berharap semua akan kembali lagi. Tim Litaq Bi Art tidak akan cepat melupakan peristiwa ini, sebab perjuangannya tidak mudah bisa bertemu sesama seniman yang baru saja dikenal nya. Kami tentu sangat berterima kasih pada yang membantu H. Andi Ian Rusali Masdar, Pemerintah Polewali Mandar H. Samsul Mahmud dan Hj. Nursami Masdar, Emefsi Group, H. Syamsul Samad, Hj Chuduriah Sahabuddin dan keluarga besar Unasman, H. Fadly, H. Fahri Fadly Ketua DPRD Polewali Mandar, DPC PDIP, Kalkulus Apparel, Kraken Jersey, dan semua masyarakat Sulawesi Barat, terutama dan Khususnya sekali para pedagang central pekkawata dan keluarga Besar Sanggar Litaq Bi Art. Semoga kita semua selalu dalam lindungannya. Amin ya rabbal alamin.(*)




