Budaya
Beranda / Gaya Hidup / Budaya / Hitam Putih Pattaya dan Kejujuran Thailand (Festival Loy Krathong (Noppamas International) Bangkok Thailand 2025) Part 2

Hitam Putih Pattaya dan Kejujuran Thailand (Festival Loy Krathong (Noppamas International) Bangkok Thailand 2025) Part 2

oleh: Sahabuddin Mahganna

Suwarta.id, – Akibat kebebasannya, penduduk luar tidak pernah mengganggu atas nama penjajahan dan Penindasan. Ini boleh jadi sesuai ketentuan atau siapa saja bisa berbahagia di tanah ini “Prathet (tanah) Thai (bebas)”. Citra ini dijunjung karena pemimpin saat itu mengutamakan diplomasi terbuka atau menerima orang secara global dan tinggal tanpa merusak nilai-nilai yang ditanamkan.

Dialek Thai (bahasa Thai) menarik dan merangsang manusia dari tahun 1238. Raja pertama Ramkhamhaeng memperkenalkan sistem aksara, menjadikan suku Sukhothai sebagai awal mula Thailand yang berkarakter dan moderen hingga kini.

Siam atau Syama (sangsekerta) merujuk pada ciri kulit pribumi lokal “gelap dan coklat” digunakan sebagai nama kota secara International sampai pada kerajaan Ayutthaya 1350. Setelah Ayutthaya runtuh kemudian dilanjutkan oleh Jenderal Taksin dengan kerajaan Thonburi-nya sebelum dinasti Chakri menetapkan Bangkok menjadi ibu kota Thailand. Kepemimpinan sang Jenderal melakukan perubahan besar pada tahun 1932, akibat diplomasi cerdas ketika Prathet-Thai mengakhiri sistem Monarki Absolut dan segera menyambut Thailand menjadi sistem Monarki Konstitusional hingga tahun 1949.

Kini Pattaya, gaungmu mendunia. Rasa penasaran wisatawan selalu mendambakan perjumpaan di titik ini, sebab berkunjung ke Bangkok tanpa ke Pattaya serasa bukan Thailand yang dituju. Raja Taksin dan Thap-Phraya pada 1767, melewati desa nelayan kecil saat berjibaku dengan milisi lokal. Dari sini kemudian menetapkan Thap-Phraya (pasukan-Pharaya) menjadi nama kota, lalu berubah menjadi Pattaya, atau juga merujuk pada makna angin dari Barat daya ke timur laut saat awal musim hujan.

Provinsi Sulbar, Tanah Penuh Puisi

1959, militer Amerika Serikat menemukan tanah itu diera perang vietnam, dan mendirikan pangkalan hingga lokasi pantai terdekat lalu digunakan peristirahatan dan rekreasi bagi sejumlah tentara pada 1960, akibat dari keterbukaan dan atas nama kebebasan, Pattaya semakin memperlihatkan ketajaman kemerdekaan dalam eksplorasi wisata dan kebudayaan, Sejumlah perlakuan secara bebas menjadi biasa dan legal, kreatifitasnya tidak jarang ditiru oleh negara lain.

Meski pola hidup di malam hari kecuali siang, menuai predikat yang tak lazim. Namun inilah Pattaya, mendengar namanya dalam perbincangan stereotipe hiburan yang viral, mengalahkan Bangkok secara intertainer. Tetapi justru didalam nya terdapat ketulusan yang tak ditemukan. Kepercayaan spritual penduduk lokal menerangi gelapnya malam dibawa langit kontrol Budhisme, dan dihargai karena jasanya dalam memurnikan rohani.

Patung Buddha di Pattaya menjadi tempat ibadah untuk pencerahan, kedamaian dan ketenangan, patung buddha di bentuk sesuai postur dan simboliknya ” Buddha Zamrud, Wat Pho, Phuket Big Buddha, Wat Intharawihan dan Buddha Besar terletak di Wat Muang, provinsi Ang thong”.

Bentuk-bentuk ini terjadi di Thailand, menjadi ruang ibadah dan wisata, kami mengunjungi beberapa tempat-tempat itu, hingga tanggal 4 pukul 15:30 lebih lambat 1 jam dari Sulawesi Barat, kami delegasi Indonesia dari Sulawesi Barat, Ikha Andriani, (Ketua Tim/Pemain, Ikram Maulana B. Aryanto (Pemain), Eko Budi Purnomo (Official) Syafir (Pemain), Fira Auliya Ramadhani (Pemain) Laiyla Zalsabila (Pemain) dan semua Group mancanegara meninggalkan Pattaya menuju Bangkok. Sejumlah kenangan, pelajaran dan hikmah, telah dirasakan bahwa kendati Pattaya terkenal dengan kegelapannya, namun demikian, Thailand mengungkapkan wajahnya secara jujur dan terang ke dunia luar. (bersambung).

Sumber:

Night Bangkok, Litaq Bi Art The Best Performence 

Sejarah Pattaya dan Thailand (Wikipedia).(*)

Bagikan